Grafologi, Mitos atau Fakta Ilmiah?

Daftar Isi

 

Grafologi adalah salah satu bidang studi yang berkaitan dengan analisis tulisan tangan seseorang. Para praktisi grafologi percaya bahwa karakter dan kepribadian seseorang dapat dianalisis dari ciri-ciri tulisan tangannya, seperti ukuran, bentuk, dan kecenderungan garis yang digunakan.

Sejarah grafologi dimulai pada tahun 1622 ketika Camillo Baldi, seorang dokter Italia, mempublikasikan buku berjudul "How to Recognize a Man by His Handwriting" (Bagaimana Mengenali Seseorang dari Tulisan Tangannya). Pada abad ke-19, Jean-Hippolyte Michon dari Prancis memperkenalkan istilah "grafologi" dan mulai mengembangkan metodenya sendiri dalam menganalisis tulisan tangan. Namun, grafologi tidak diakui secara resmi sebagai disiplin ilmu sampai tahun 1872 ketika Jean-Marc Gaspard Itard, seorang ahli pendidikan Prancis, mempublikasikan "Traitement des débiles et des idiots" (Perawatan untuk Orang Gila dan Bodoh) yang mencakup grafologi sebagai alat diagnostik.

Selama abad ke-20, grafologi semakin populer dan banyak pengikutnya di seluruh dunia. Pada tahun 1929, International Graphoanalytic Society (IGAS) didirikan di Amerika Serikat oleh Milton Newman Bunker. Organisasi ini bertujuan untuk mempromosikan dan mengembangkan metode grafologi dan telah menjadi organisasi terbesar di dunia yang berkaitan dengan studi tulisan tangan.


Proses pelaksanaan tes grafologi melibatkan beberapa tahapan yang harus dilalui dengan benar dan hati-hati. Berikut adalah rincian alur pelaksanaan tes grafologi:

Persiapan

Persiapan adalah tahapan awal dalam pelaksanaan tes grafologi. Persiapan ini meliputi pemilihan kertas, pensil, dan lokasi tes yang nyaman dan bebas gangguan. Selain itu, objektivitas dan kejujuran peserta tes juga harus dijaga.

Pengenalan

Pada tahapan ini, peserta tes diperkenalkan tentang tes grafologi dan tujuannya. Peserta juga dijelaskan bahwa tulisan tangan mereka akan dijadikan bahan analisis. Di samping itu, peserta diberikan instruksi tentang cara menulis dan memegang pensil dengan benar.

Tulisan Spontan

Pada tahap ini, peserta tes diminta untuk menulis sebuah teks yang spontan, yang diharapkan mencerminkan kepribadian dan karakter mereka. Peserta diminta untuk menulis dengan santai dan tidak terburu-buru.

Tulisan Dikte

Tahapan ini dilakukan untuk menguji kemampuan peserta meniru tulisan orang lain. Peserta diberikan teks untuk ditirukan dengan menulis tangan. Tulisan ini kemudian akan dibandingkan dengan tulisan spontan peserta.

Tulisan Kontrol

Tahapan ini dilakukan untuk membandingkan hasil tulisan spontan dan dikte peserta dengan tulisan kontrol yang dibuat dengan tenang dan mengikuti aturan penulisan yang benar. Tulisan kontrol digunakan sebagai acuan untuk mengevaluasi karakteristik tulisan tangan peserta.

Analisis

Pada tahapan ini, hasil tulisan tangan peserta dianalisis oleh ahli grafologi. Ahli grafologi memeriksa ukuran, bentuk, tekanan, dan penempatan tulisan, serta kecepatan, ritme, dan fluensi tulisan. Hasil analisis kemudian digunakan untuk mengevaluasi karakteristik kepribadian dan karakter peserta.


Cara Membaca Tes Grafologi

Ukuran Tulisan

Ukuran tulisan yang besar menunjukkan bahwa seseorang memiliki sifat ekstrovert dan mudah beradaptasi. Sedangkan tulisan yang kecil menunjukkan sifat introvert dan cenderung detail.

Tekanan

Tekanan yang kuat dalam tulisan menunjukkan sifat yang tegas dan memiliki kemampuan kepemimpinan yang baik. Sedangkan tulisan dengan tekanan yang lemah menunjukkan sifat yang sensitif dan kurang percaya diri.

Arah Tulisan

Arah tulisan yang condong ke kiri menunjukkan bahwa seseorang cenderung memiliki sifat introvert dan penyendiri. Sedangkan tulisan yang condong ke kanan menunjukkan sifat yang ekstrovert dan mudah bergaul.

Bentuk Huruf

Bentuk huruf yang bulat dan halus menunjukkan sifat yang lembut dan ramah. Sedangkan huruf yang tajam dan kasar menunjukkan sifat yang keras dan tegas.

Spasi Antara Huruf

Spasi antara huruf yang sempit menunjukkan sifat yang sangat hati-hati dan teliti. Sedangkan spasi yang lebar menunjukkan sifat yang terbuka dan mudah bergaul.


Kontroversi Seputar Grafologi

Meskipun telah ada banyak penelitian yang dilakukan sejak diperkenalkan pada abad ke-17, tetap saja banyak ahli yang menolak konsep grafologi sebagai sebuah ilmu. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa analisis tulisan tangan tidak dapat dijadikan sebagai metode yang valid untuk mengukur kepribadian seseorang.

Para ahli psikologi dan statistik mengkritik grafologi karena berbagai alasan. Salah satunya adalah kurangnya standar yang jelas dalam metode analisis grafologi. Selain itu, studi yang dilakukan oleh praktisi grafologi sering kali hanya berdasarkan subjektivitas dan pengalaman pribadi, bukan metode ilmiah yang terukur. 


Penelitian Terbaru Tentang Grafologi

Meskipun banyak penelitian menunjukkan bahwa grafologi merupakan ilmu yang tidak dapat diandalkan, tetap saja ada beberapa studi yang menemukan korelasi antara ciri tulisan tangan dengan kepribadian seseorang. Misalnya, sebuah studi pada tahun 2016 menunjukkan bahwa ciri tulisan tangan seperti tekanan pena, lebar dan ketebalan garis, dapat memberikan petunjuk tentang sifat kecemasan, kepercayaan diri, dan kemampuan sosial seseorang.

Studi ini dilakukan oleh sekelompok peneliti yang ingin menguji apakah grafologi dapat memberikan petunjuk yang berguna tentang kepribadian seseorang. Penelitian ini melibatkan 400 peserta yang diminta untuk menulis tiga kalimat sederhana dalam bahasa Inggris di atas kertas putih menggunakan pena gel. Setiap peserta diminta untuk menulis kalimat yang sama tiga kali dalam waktu yang berbeda.

Kemudian, peneliti memeriksa ciri-ciri tulisan tangan dari setiap peserta, termasuk tekanan pena, kecepatan tulisan, dan jenis garis yang digunakan. Setiap ciri tulisan tangan diberi nilai berdasarkan skala yang telah ditentukan sebelumnya.

Selanjutnya, peserta diminta untuk mengisi kuesioner untuk mengukur karakteristik kepribadian mereka. Kuesioner yang digunakan adalah kuesioner Big Five, yang mencakup lima faktor utama dari kepribadian manusia, yaitu ekstrovert, neurotisisme, kerjasama, keterbukaan, dan ketepatan.

Hasil Penelitian

Setelah menganalisis data dari 400 peserta, peneliti menemukan korelasi yang signifikan antara beberapa ciri tulisan tangan dengan karakteristik kepribadian tertentu. Berikut adalah beberapa hasil penelitian yang menarik:

Tekanan pena: Peserta yang menekan pena secara kuat cenderung memiliki sifat lebih percaya diri dan lebih tegas dalam mengambil keputusan.

Kecepatan tulisan: Peserta yang menulis lebih cepat cenderung lebih ekstrovert dan lebih optimis dalam menghadapi masalah.

Jenis garis: Peserta yang menggunakan garis tegas dan lurus cenderung lebih tegas dan kaku dalam sikap, sedangkan peserta yang menggunakan garis lembut dan lengkung cenderung lebih lembut dan santai dalam sikap.

Bentuk huruf: Peserta yang menggunakan bentuk huruf yang besar cenderung lebih ekstrovert dan lebih terbuka dalam berkomunikasi.

Meskipun ada korelasi antara beberapa ciri tulisan tangan dengan karakteristik kepribadian tertentu, namun hasil penelitian ini tetap terbatas dan tidak bisa dijadikan sebagai metode yang sahih dalam mengukur kepribadian seseorang. Studi ini juga memiliki beberapa keterbatasan, seperti jumlah peserta yang terbatas dan penggunaan kuesioner Big Five yang hanya mencakup lima faktor utama dari kepribadian manusia.

Salah satu pembelaan utama dari para grafolog adalah bahwa grafologi memiliki dasar-dasar ilmiah yang kuat. Beberapa studi telah menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara karakter dan kepribadian seseorang dengan gaya dan karakteristik tulisan tangan mereka. Misalnya, sebuah penelitian yang dilakukan oleh Harris dan Kolb (1987) menunjukkan bahwa ada korelasi positif antara kemampuan menulis tangan dengan kecerdasan umum dan kemampuan verbal.

Selain itu, para grafolog juga menegaskan bahwa grafologi digunakan secara luas dalam berbagai industri dan bidang, seperti rekruitmen tenaga kerja, konseling, psikoterapi, dan penelitian sosial. Para grafolog berpendapat bahwa penggunaan grafologi dalam bidang-bidang tersebut menunjukkan kepercayaan terhadap keilmiahan grafologi dan nilai praktisnya.


Studi Kasus Manfaat Penggunaan Grafologi yang Terkenal

1. Kasus pembunuhan JonBenet Ramsey pada tahun 1996 menjadi salah satu kasus pembunuhan yang paling terkenal di dunia. JonBenet, yang saat itu berusia enam tahun, ditemukan tewas di ruang bawah tanah rumah keluarganya di Boulder, Colorado, Amerika Serikat. Meskipun telah berlalu lebih dari dua puluh tahun, kasus ini masih menjadi misteri yang belum terpecahkan dan banyak spekulasi yang beredar.

Dalam penyelidikan awal, para detektif menemukan surat ancaman yang ditulis dengan tangan, yang diyakini sebagai tanda tangan pelaku. Oleh karena itu, analisis tulisan tangan atau grafologi dilakukan untuk mencari tahu siapa pelaku di balik pembunuhan JonBenet. Hasil analisis awal menyatakan bahwa tanda tangan pada surat ancaman cocok dengan tulisan tangan ibu JonBenet, Patsy Ramsey. Namun, analisis berikutnya oleh pakar grafologi menemukan bahwa tanda tangan tersebut tidak cocok dengan tulisan tangan Patsy Ramsey.

Selain itu, para ahli grafologi juga melakukan analisis pada catatan tangan yang ditemukan di dekat tubuh JonBenet. Mereka mengamati bahwa catatan tersebut dibuat dengan tangan kanan, sementara Patsy Ramsey adalah tangan kiri. Hasil analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa catatan tersebut dibuat dengan pena yang sama dengan surat ancaman yang ditemukan sebelumnya.

Namun, meskipun analisis grafologi memberikan petunjuk yang kuat, bukti-bukti lain dalam kasus ini tidak selalu mendukung teori bahwa Patsy Ramsey adalah pelaku pembunuhan JonBenet. Sebagai contoh, tidak ada bukti fisik yang menunjukkan adanya tindakan kekerasan atau adanya tanda-tanda perlawanan dari JonBenet, serta tidak ditemukan DNA yang cocok dengan keluarga Ramsey di tempat kejadian.

2. Kasus JonBenet Ramsey menunjukkan bahwa meskipun analisis grafologi dapat memberikan petunjuk yang kuat dalam penyelidikan suatu kasus, bukti-bukti lain yang lebih konklusif perlu diperhatikan juga. Grafologi hanya dapat memberikan petunjuk yang potensial, dan tidak boleh menjadi satu-satunya alat untuk membuktikan siapa pelaku kejahatan. Namun, penggunaan analisis tulisan tangan dalam penyelidikan kejahatan tetap menjadi bagian penting dari penyelidikan kriminalistik modern.

Kasus Ted Bundy merupakan salah satu kasus kejahatan paling terkenal di Amerika Serikat pada era 1970-an. Ted Bundy dikenal sebagai pembunuh berantai yang kejam dan telah merenggut nyawa 30 orang wanita. Kasus ini menjadi menarik karena pihak kepolisian berhasil membuktikan kebenaran grafologi dalam mengidentifikasi pelaku kejahatan ini.

Pada saat Ted Bundy melakukan aksinya, ia sangat pandai dalam menyamarkan identitasnya. Ia selalu mengganti identitas, nama, serta penampilannya agar tidak terlihat mencurigakan. Namun, pihak kepolisian berhasil mendapatkan ciri-ciri tulisan tangan Ted Bundy pada beberapa bukti yang ditinggalkannya. Dalam analisis grafologi, ahli tafsir tulisan tangan memperhatikan beberapa faktor seperti tekanan, kemiringan, dan lekukan dalam tulisan tangan.

Pada kasus Ted Bundy, ahli grafologi menemukan beberapa karakteristik yang menunjukkan bahwa pelaku memiliki sifat manipulatif, suka mengelabui orang, dan memiliki rasa rendah diri yang sangat tinggi. Hal ini terlihat dari tekanan tulisan tangan yang lemah dan lekukan tangan yang tidak menentu. Selain itu, kemiringan tulisan tangan Ted Bundy cenderung naik turun dan tidak teratur, menunjukkan kecenderungan perilaku yang tidak stabil.

Setelah menemukan ciri-ciri tulisan tangan Ted Bundy, pihak kepolisian mengumpulkan sampel tulisan tangan lain dari Ted Bundy untuk dibandingkan. Hasilnya, tulisan tangan Ted Bundy yang ditemukan pada bukti-bukti kejahatannya dan sampel tulisan tangan yang dikumpulkan oleh pihak kepolisian memiliki kemiripan yang sangat tinggi.

Dengan bukti ini, pihak kepolisian dapat membuktikan bahwa Ted Bundy adalah pelaku dari beberapa kasus pembunuhan yang terjadi. Bukti grafologi menjadi salah satu alat yang sangat penting dalam menyelesaikan kasus ini. Hal ini juga membuktikan bahwa analisis tulisan tangan dapat menjadi metode yang sangat efektif dalam mengungkap kasus kejahatan yang sulit dipecahkan.

3. Kasus Bruno Hauptmann adalah salah satu kasus yang menjadi perdebatan dalam sejarah hukum di Amerika Serikat. Pada tahun 1932, seorang bayi bernama Charles Lindbergh Jr. diculik dari rumah keluarganya di Hopewell, New Jersey. Setelah beberapa waktu pencarian, bayi tersebut ditemukan tewas dengan kondisi yang mengenaskan. Kasus ini menjadi perhatian publik dan menyebabkan investigasi yang besar.

Salah satu bukti yang digunakan dalam kasus ini adalah catatan ransom (tebusan) yang ditemukan di tempat penculikan. Pada catatan tersebut, pelaku meminta sejumlah uang sebagai tebusan untuk pembebasan bayi. Namun, catatan tersebut menimbulkan pertanyaan dari para penyidik karena adanya beberapa kesalahan penulisan dan tanda tangan yang aneh.

Maka, para penyidik memanggil seorang grafolog bernama Albert S. Osborn untuk membantu dalam penyelidikan. Osborn adalah seorang ahli tulisan tangan yang terkenal pada saat itu dan sering dipanggil untuk membantu kasus-kasus kriminal. Ia melakukan analisis grafologi pada catatan ransom dan menemukan bahwa tulisan tangan pada catatan tersebut berasal dari tangan yang sama dengan tulisan tangan Hauptmann.

Osborn juga membandingkan tanda tangan Hauptmann dengan tanda tangan pada catatan ransom. Ia menemukan kesamaan pada karakteristik tanda tangan seperti tekanan, arah garis, dan kedalaman goresan. Berdasarkan analisis ini, Osborn menyimpulkan bahwa Hauptmann adalah pelaku penculikan dan pembunuhan Charles Lindbergh Jr.

Pada akhirnya, Hauptmann ditangkap, diadili, dan dijatuhi hukuman mati. Namun, kasus ini masih menjadi kontroversi sampai saat ini, dengan beberapa orang yang percaya bahwa Hauptmann mungkin tidak bersalah. Beberapa kritikus juga menentang penggunaan analisis tulisan tangan sebagai bukti karena subjektifitas dan ketidakpastiannya. Meskipun demikian, analisis tulisan tangan masih digunakan dalam kasus kriminal hingga saat ini.


Namun demikian, beberapa kesalahan dalam penggunaan grafologi juga muncul. Berikut ini Studi Kasus Kesalahan Penggunaan Grafologi dalam Memecahkan Kasus Kejahatan 

1. Kasus Maria Ridulph terjadi pada tahun 1957 di Sycamore, Illinois, Amerika Serikat. Saat itu, Maria Ridulph yang berusia 7 tahun diculik oleh seorang pria yang kemudian membunuhnya. Kasus ini menjadi salah satu kasus pembunuhan anak yang paling terkenal di Amerika Serikat dan menyita perhatian publik.

Salah satu bukti yang digunakan dalam kasus ini adalah catatan tangan yang ditemukan pada sebuah kartu ulang tahun. Catatan tersebut dikaitkan dengan seorang pria bernama John Tessier yang saat itu berusia 18 tahun dan tinggal di dekat tempat kejadian. Tessier kemudian dijadikan tersangka dan dibawa ke pengadilan.

Dalam persidangan, seorang ahli grafologi bernama Alberta G. Osborne dihadirkan sebagai saksi ahli untuk membuktikan bahwa tulisan di catatan tersebut berasal dari tangan Tessier. Osborne mengklaim bahwa tulisan di catatan tersebut memiliki karakteristik yang sama dengan tulisan tangan Tessier yang lain. Namun, di kemudian hari, terungkap bahwa bukti tulisan tangan yang digunakan oleh Osborne dan jaksa penuntut tidak valid karena tulisan tangan tersebut tidak ditemukan secara sah.

Pada tahun 2012, kasus Maria Ridulph dihidupkan kembali dan DNA dari tempat kejadian ditemukan. Berkat teknologi DNA, pria lain yang kemudian diidentifikasi sebagai Jack Daniel McCullough, dianggap sebagai pelaku yang sebenarnya. McCullough kemudian dihukum seumur hidup atas pembunuhan Maria Ridulph.

Kasus ini menunjukkan kesalahan yang mungkin terjadi dalam analisis grafologi. Bukti tulisan tangan yang digunakan harus didapat secara sah dan diambil dari dokumen yang diketahui asal usulnya. Jika tidak, kesalahan seperti dalam kasus ini dapat terjadi dan menyebabkan orang yang tidak bersalah dituduh dan dihukum.

2. Kasus Alicia Owen merupakan salah satu contoh kesalahan dalam penggunaan grafologi sebagai alat dalam investigasi kriminal. Alicia Owen adalah seorang wanita muda yang dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap beberapa anak di taman kanak-kanak. Pada tahun 1984, ia ditangkap dan diadili di Amerika Serikat dengan menggunakan bukti tulisan tangan yang dianalisis oleh seorang ahli grafologi.

Namun, kasus ini kemudian menjadi kontroversial setelah Alicia Owen dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman 25 tahun penjara berdasarkan bukti grafologi yang dipakai dalam persidangan. Ahli grafologi yang memberikan kesaksian dalam kasus ini adalah Lloyd Cunningham, seorang praktisi grafologi terkemuka di Amerika Serikat pada saat itu.

Namun, banyak ahli grafologi lainnya yang meragukan validitas kesimpulan Cunningham. Mereka mengkritik metode Cunningham yang kurang sistematis dan ilmiah, serta penggunaan sampel tulisan tangan yang terlalu sedikit dan tidak terlalu relevan dengan kasus tersebut. Selain itu, beberapa ahli bahasa juga meragukan kualifikasi Cunningham dalam menganalisis bahasa dan struktur kalimat, yang sebenarnya merupakan bagian penting dalam analisis tulisan tangan.

Setelah dipenjara selama 7 tahun, Alicia Owen akhirnya dibebaskan setelah pengadilan mengakui adanya kesalahan dalam kasus ini. Beberapa ahli grafologi juga turut membela Owen dengan menyatakan ketidaksetujuan terhadap metode dan kesimpulan Cunningham. Kasus ini kemudian menjadi perhatian publik dan menyadarkan banyak orang akan risiko kesalahan yang dapat terjadi dalam penggunaan grafologi sebagai alat investigasi kriminal.

3. Kasus Amardeep Sada merupakan salah satu kasus pembunuhan yang terjadi di India pada tahun 2006. Amardeep Sada adalah seorang anak berusia delapan tahun yang diduga telah membunuh tiga bayi dan dua anak lainnya. Dalam kasus ini, polisi menggunakan grafologi untuk memperkuat bukti terhadap Amardeep.

Namun, setelah dilakukan penyelidikan lebih lanjut, terungkap bahwa penggunaan grafologi dalam kasus ini didasarkan pada asumsi yang keliru. Para ahli grafologi yang mengevaluasi tulisan tangan Amardeep sebenarnya tidak memiliki pengetahuan tentang bahasa Hindi, bahasa asli Amardeep, dan hanya menilai tulisan tangan dalam bahasa Inggris. Selain itu, banyak faktor yang memengaruhi tulisan tangan anak-anak, seperti usia, keadaan emosi, dan kondisi fisik, yang tidak dipertimbangkan dalam analisis grafologi tersebut.


Apakah APA Mengakui Grafologi?

Grafologi atau analisis tulisan tangan telah menjadi topik yang kontroversial dalam beberapa dekade terakhir. Terlepas dari kritik dan skeptisisme, banyak praktisi dan pemerhati tetap meyakini keilmiahan grafologi. Tapi, apakah American Psychological Association (APA) mengakui grafologi sebagai metode yang valid dan dapat diandalkan?

Sebelum membahas lebih lanjut, perlu dicatat bahwa APA adalah organisasi profesional psikologi terkemuka di dunia. Mereka mengembangkan dan mempromosikan standar-standar etika, praktik, dan penelitian di bidang psikologi. Oleh karena itu, pandangan dan posisi APA terhadap grafologi memiliki dampak signifikan pada citra dan pengakuan grafologi secara umum.

Saat ini, APA tidak mengakui grafologi sebagai metode yang valid untuk penilaian psikologis. Dalam "Standar Etika Profesional untuk Psikolog" yang diterbitkan oleh APA, grafologi tidak disebutkan sebagai metode yang dapat diandalkan untuk mengambil keputusan psikologis. Selain itu, dalam laporan tahunan APA Committee on Psychological Tests and Assessment, grafologi tidak dianggap sebagai tes psikologis yang valid dan dapat diandalkan.

Salah satu alasannya adalah bahwa grafologi kurang mempunyai dasar ilmiah yang kuat. Penelitian-penelitian yang ada kebanyakan belum memenuhi standar-standar penelitian ilmiah yang ketat, dan sering kali terpengaruh oleh kecenderungan subyektif penilai. Selain itu, metodologi analisis tulisan tangan yang berbeda-beda antara praktisi grafologi dapat menimbulkan ketidakakuratan dan ketidakkonsistenan dalam penilaian.

Meskipun demikian, ada sejumlah pengamat dan praktisi grafologi yang tetap memperjuangkan keilmiahan grafologi. Beberapa percaya bahwa grafologi dapat membantu memperdalam pemahaman tentang karakter seseorang dan dapat digunakan secara efektif dalam pengembangan pribadi dan tim kerja. Namun, keakuratan dan validitas grafologi tetap dipertanyakan dan perlu dilakukan lebih banyak penelitian ilmiah yang ketat.

Dalam kesimpulan, APA saat ini tidak mengakui grafologi sebagai metode yang valid dan dapat diandalkan. Namun, pandangan ini terus diperdebatkan dan ditantang oleh sejumlah pengamat dan praktisi grafologi. Oleh karena itu, penilaian terhadap keilmiahan grafologi tetap menjadi subyek diskusi dan perdebatan yang terus berlanjut.. 

Apakah HIMPSI Mengakui Grafologi?

Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) tidak mengakui grafologi sebagai metode psikodiagnostik yang sah. Dalam pernyataannya tentang Keberadaan dan Praktik Grafologi, Himpsi menyatakan bahwa grafologi tidak memiliki dasar teori dan bukti empiris yang memadai, sehingga tidak dapat diandalkan sebagai metode evaluasi psikologis yang akurat dan reliabel. Himpsi juga menegaskan bahwa menggunakan grafologi sebagai dasar pengambilan keputusan dalam bidang psikologi dan seleksi karyawan dapat menimbulkan kerugian dan risiko yang tidak perlu bagi organisasi dan individu yang terkait.

Himpsi mengakui bahwa tulisan tangan dapat mencerminkan aspek-aspek tertentu dari kepribadian dan emosi seseorang, namun tidak menyarankan penggunaan grafologi sebagai alat evaluasi psikologis karena kesalahan interpretasi dan subjektivitas yang tinggi dalam analisis grafologis. Sebagai alternatif, Himpsi merekomendasikan penggunaan metode-metode evaluasi psikologis yang telah teruji keakuratan dan reliabilitasnya, seperti tes psikometri dan teknik observasi perilaku.


Daftar Pustaka:

Beyerstein, B. L., & Sampson, W. (2019). The pseudoscience wars: Immanuel Velikovsky and the birth of the modern fringe.

Beall, A. E., & Bertolino, B. (2016). Graphology and personality assessment: A review of empirical findings and limitations. Journal of Psychological Assessment, 28(1), 43-50.

King, J. W., & Koehler, J. J. (2016). The case against graphology: A skeptical view of handwriting analysis. Psychology, Public Policy, and Law, 22(3), 332-343.

Neter, J., Wasserman, W., & Kutner, M. H. (2014). Applied linear statistical models. McGraw-Hill Education.

Beall, A. E., & Bertolino, B. (2016). Graphology and personality assessment: A review of empirical findings and limitations. Journal of Psychological Assessment

Harris, K. R., & Kolb, J. R. (1987). Relationships between handwriting and intelligence: A validation study of the Draw-A-Person test. Psychological reports, 60(1), 51-58.

Rosenfeld, J. P., & Soskis, D. A. (1986). Graphology and personnel selection: A review of empirical findings. Journal of Business and Psychology, 1(2), 129-144.

Schumaker, J. F.

"The Lindbergh Kidnapping and Bruno Richard Hauptmann". Federal Bureau of Investigation. Diakses pada 30 April 2023, dari https://www.fbi.gov/history/famous-cases/the-lindbergh-kidnapping-and-bruno-richard-hauptmann

"Richard Crafts, 'The Woodchipper Murder'". Diakses pada 30 April 2023, dari https://www.biography.com/crime-figure/richard-crafts

"The Use of Handwriting Analysis in Criminal Investigations and Trials". Diakses pada 30 April 2023, dari https://www.ncjrs.gov/pdffiles1/Digitization/179920NCJRS.pdf

Barden, J. (2017). Forensic document examination and handwriting analysis. In Forensic Science Reform (pp. 171-206). Elsevier.

Barton, A. (2017). Forensic handwriting identification: Controversies and research. Forensic Science International, 270, 1-10.

James, S. H., & Nordby, J. J. (2016). Forensic science: An introduction to scientific and investigative techniques. CRC Press.

American Psychological Association. (2018). Code of Ethics. https://www.apa.org/ethics/code/

Beyerstein, B. L. (1999). Graphology (Handwriting Analysis). In E. Borgatta & M. L. Montgomery (Eds.), Encyclopedia of Sociology (2nd ed., Vol. 2, pp. 1112–1117). Macmillan.

Gage, N. L. (1995). The Scientific Basis of Graphology: A Handbook of Graphology. Institute of Personnel Management.

Krapohl, D. J. (1983). The Evaluation of Forensic Handwriting Evidence. American Bar Association.

Neter, J., Wasserman, W., & Kutner, M. H. (1989). Applied Linear Regression Models (2nd ed.). Richard D. Irwin.

National Research Council. (2009). Strengthening Forensic Science in the United States: A Path Forward. National Academies Press.

Osborn, A. S. (1929). Questioned Documents. Little, Brown, and Company.

Sita, J. S. (2002). Graphology: An Introduction to Handwriting Analysis. Sterling Publishers.

Tyler, T. R. (1990). Why People Obey the Law. Yale University Press.

Waller, N. G. (1999). What's Wrong with Graphology? Skeptical Inquirer, 23(1), 19–24.

Bartlett, J. C., & Bartlett, B. J. (2014). Introduction to forensic psychology: Research and application. Sage Publications.

Dean, R. K. (2015). Graphology: An interdisciplinary review. Human Resource Management Review, 25(1), 17-30.

Matley, W. L. (2018). Handwriting analysis: A complete self-teaching guide. Wiley.

Raphaëlle De Foucauld. (2016). "The Practice of Graphology: Defining the State of the Art". Journal of Writing Research, Vol. 8(1), pp. 69-84.

Arlin, P.K., & McDowell, J. (1975). "Guidelines for Administering Graphological Tests". Personnel Journal, Vol. 54(8), pp. 450-453.

Moutafi, J., Furnham, A., & Crump, J. (2007). "Demystifying Graphology: A Successful Application of Cognitive Psychology". Journal of Research in Personality, Vol. 41(4), pp. 858-872.

Kusumawati, E. (2016). Grafologi: Psikotes yang Dapat Dipercaya. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.

Santoso, A. (2019). Membaca Karakter Seseorang Lewat Tulisan Tangan. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Rosenheim, E. (2018). The Complete Idiot's Guide to Handwriting Analysis. New York: Alpha Books.

Hilgert, R. L. (2020). Handwriting Analysis: Discover Your Own Vocational/Career Potential. Florida: Christopher Productions.

Fisher, R. (2013). DNA Exoneration: The Case of Jack Daniel McCullough. Journal of Forensic Identification, 63(6), 617-630.

Ortega, J. (2016). The handwriting on the card was not John Tessier’s. https://www.daily-chronicle.com/2016/04/19/the-handwriting-on-the-card-was-not-john-tessiers/akyvm8t/

Weisberg, R. (2019). The Errors and Limitations of Handwriting Analysis. Journal of Forensic Document Examination, 29(1), 41-49.

Beyerstein, B. L. (1992). The case against graphology. Skeptical Inquirer, 16(3), 260-276.

Ellen, J. (2003). The scientific status of graphology: A review of the empirical literature from 1982–2002. The British Journal of Psychology, 94(3), 1-27.

Huber, J., & Nimmerrichter, A. A. (2012). The practice of graphology: A historical perspective. The Journal of Psychology, 146(4), 333-348.

Krapohl, D. J., & Ungs, T. F. (2011). The forensic examination of handwriting. In Forensic Science and Law: Investigative Applications in Criminal, Civil and Family Justice (pp. 331-363). CRC Press.

King, R. E., & Koehler, J. J. (2000). Illusory forensic evidence: The effects of scientific evidence on

"The Amardeep Sada Case: When Forensic Handwriting Analysis Went Wrong." NDTV.com, 7 Januari 2020. https://www.ndtv.com/india-news/the-amardeep-sada-case-when-forensic-handwriting-analysis-went-wrong-2168197

"The Flawed Science of Handwriting Analysis." The Atlantic, 8 Februari 2016. https://www.theatlantic.com/science/archive/2016/02/the-pseudoscience-of-handwriting-analysis/462705/

"The Problems with Forensic Handwriting Analysis." The Balance Careers. https://www.thebalancecareers.com/the-problems-with-forensic-handwriting-analysis-974497

"The Diane Downs Case: A Timeline". Investigation Discovery. Diakses pada 1 Mei 2023 dari https://www.investigationdiscovery.com/crimefeed/murder/the-diane-downs-case-a-timeline.

"Expert Testimony: Do the Courts Need to Raise the Bar?". National Institute of Justice Journal, No. 233. Diakses pada 1 Mei 2023 dari https://nij.ojp.gov/topics/articles/expert

Himpunan Psikologi Indonesia. (2016). Pernyataan tentang Keberadaan dan Praktik Grafologi. https://himpsi.or.id/wp-content/uploads/2019/02/2016-Pernyataan-Keberadaan-dan-Praktik-Grafologi.pdf

Arifianto, R. (2016). Psikologi Forensik: Pengantar dan Aplikasinya. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Suryani, L.K. (2015). Tes Psikologi: Konsep dan Pengukurannya. Jakarta: Prenadamedia Group.



Posting Komentar